Menitip Salam

Menitip salam

Kali ini aku harus mengenal pak pos komplek rumah
Tak adil rasanya kalau aku hanya bisa mengetahuinya dengan inderaku
Lewat kuping aku memang biasa dan bisa menghapal deru motornya
Dengan mata aku mudah menempelkan liku wajahnya dalam ingatan dan
Dengan hidung aku tentu sangat yakin untuk tak terlalu dekat dengannya
Dia memang bau tapi jelasnya aku lebih mau.
Kopi sudah kuseduh dan rokokku sudah berganti merek
Untuk kali ini aku rela menyedot rokok kelas pekerja
Rokok netral tahan lama khas kaum penyerap keringat
Sajian ramah sederhana agar aku bisa menjabat tangannya dan bicara seraya menatap mata
Seperti sahabat lama bertemu untuk berdamai bukan untuk ramai
Hari ini rabu, di persimpangan hari yang hangat aku kan menyapanya
Aku ingin menitip salam untuk debu.

0 komentar:

Posting Komentar