Pagi Dini Hari


Awan gelap di pagi dini membujuk bulan untuk mesum

Manusia tak sedang melihat indah langit.

Sudah terbenam dalam selimut dan menggigil dingin.

“Tak perlu malu untuk mau” katanya

Angin merasa jijik, lari bertiup dingin dan menggerutu ribut

“Kita benda dan ukuran keindahan, tak pantas untuk berkhianat pada hakikat kita”

Makhluk langit lupa padaku

Pada aku yang mencintai kejanggalan mereka.

“Wahai manusia aneh!”

“Mengapa kau tidak jadi biasa dan mulai bertindak normal”

Nelangsa kala kau tidak juga mampu mengajak jiwa untuk berkompromi dengan ingin

Kala kau tak mampu mengajak tubuh untuk berdamai dengan lelah

Aku mengantuk dan aku ingin tidur

Aku ingin berbaring dan terpejam tenang

Seperti batang yang tergeletak setelah seharian dilempar-lempar untuk mainan anjing

Aku mengantuk dan aku ingin tidur

Aku akan merapal kembali segala langkah menuju tidur

Aku senang rupanya aku menang

Aku akan tidur

Aku mesum dengan selimut

Dengan guling

Dengan kamu

Dalam mimpi

Tanah

Karena bagiku kamu seperti tanah bebas yang tidak bersertifikat,
entah hak milik atau hak guna bangun atas dirimu.
Kamu adalah tanah bebas yang berbau khas waktu hujan mengguyur,
yang melindungi kaki sensitifku dari kerikil tajam,
dan yang nanti akan mengubur aku,
nanti ketika kita bersama menjadi tanah.

hatimu dicuri saja!

Ketika hendak memilih dimana hatimu akan kau letakkan, cobalah untuk tidak terjebak dan masuk dalam tipuan akal.
Ibaratkan hatimu sebagai milikmu yang paling berharga dan tentu saja sudah menjadi hal yang masuk akal untuk meyimpannya di tempat rahasia tersembunyi atau singkat kata di tempat teraman yang pernah ada.
Tentu saja tujuannya agar kita merasa nyaman.
Sangat mudah dan biasa untuk meletakkannya di tempat-tempat seperti itu, tapi sangat mudah pula untuk dicuri.
Cobalah untuk meletakkannya di tempat-tempat yang berbahaya, karena pencurinya pasti akan sangat kesusahan dan kalaupun tercuri maka pencuri itulah pasti pemilik hatimu yang paling berhak.
Meletakkan hati mungkin sama seperti bergantung pada dahan kecil yang rapuh, menyeramkan memang, tapi untuk beberapa hal itu bisa sangat menarik.
Dengan segala sensasi unik ketika kamu bergantung, lalu merasakan hembusan angin, sepoi yang nikmat atau dalam kasus lain badai yang mengombang ambingkan, tidak pasti, kadang nikmat tapi sering juga sesat.
Sensasi lain seperti mendengarkan dan merasakan setiap bunyi retakan dahan yang kian melemah dan terkelupas perlahan sampai pangkal terakhir, mengerikan tentu.
Pastilah jantungmu berdetak semakin cepat dan darahmu berdesir semakin kencang seakan-akan hendak meledak dari tiap ujung pembuluhnya.
Kemudian jatuh, ya, jatuh menuju dataran yang jahat dan keras yang selalu jadi alasan kenapa kita takut.
Hal itu takkan terjadi kalau kamu memilih untuk berdiri di tepian yang aman.
Bergantunglah! Pada dahan yang rapuh. Letakkan hatimu pada segala bahaya.
Agar teruji siapa kamu dan siapa yang berhak atas hatimu.

Hai

Ketika rindu dan kau tulis namaku di telapak tanganmu
Lihatlah keatas, pada langit.
Dengarkan jutaan burung sedang bernyanyi
Untuk kamu, untuk rindumu padaku.

Kencing Tuhan

Toko sudah sepi
Malam sudah sunyi
Banci di seberang baru mulai
Mereka bernyanyi lalu mengungsi
Muka mereka merengut wajahnya kini lelaki

Anak ini nakal sekali
Kepalanya masih tak bermahkota
Giginya masih banyak gigis
Dia meringis lalu tertawa
Aku miris lalu bertanya
Namanya tuhan katanya
Rumahnya penuh setan
Ia pergi tak pamit ibu
Ia ingin kencing
Aku menghardiknya
Lancang sekali ia kencing di mukaku
Ia pergi berlari sambil kencing
Ia pergi kencing sambil berlari

Malamnya masih sunyi
Tokonya sudah sepi
Bancinya kini berlari
Hujan sudah turun lagi

Aku berdiri tanpa mengerti
Hujan turun tak rapi
Mungkin tuhan baru belajar kencing.

Menitip Salam

Menitip salam

Kali ini aku harus mengenal pak pos komplek rumah
Tak adil rasanya kalau aku hanya bisa mengetahuinya dengan inderaku
Lewat kuping aku memang biasa dan bisa menghapal deru motornya
Dengan mata aku mudah menempelkan liku wajahnya dalam ingatan dan
Dengan hidung aku tentu sangat yakin untuk tak terlalu dekat dengannya
Dia memang bau tapi jelasnya aku lebih mau.
Kopi sudah kuseduh dan rokokku sudah berganti merek
Untuk kali ini aku rela menyedot rokok kelas pekerja
Rokok netral tahan lama khas kaum penyerap keringat
Sajian ramah sederhana agar aku bisa menjabat tangannya dan bicara seraya menatap mata
Seperti sahabat lama bertemu untuk berdamai bukan untuk ramai
Hari ini rabu, di persimpangan hari yang hangat aku kan menyapanya
Aku ingin menitip salam untuk debu.