dengan segala

aku akan membiarkan rentang waktu dan jarak yang pengecut ini
karena aku tahu, aku adalah segala yang tak mampu tapi kamu tidak
dengan nafsu yang liar dan jamak menghajarku keras dan terus
aku adalah serigala yang penuh mau.
aku pedansa yang buruk dengan segala pujimu
dan aku pengiba yang jenius dengan segala murammu
lalu tawaku bergelegak karena takut ini menyesah
dalam sebuah batas, kuldesak.
dan apa yang aku miliki, hanya kamu
dan apa yang aku mampu, mencintamu.

di kursi goyang.

rindu memancar lembut lewat tatap
ada bingkai cerita di lembaran untuk dikenang
melewati masa kulit itu lelah
berlabuh tubuh di ayunan tua
memancar senyum yang selalu mesra
teringat sosok yang menjadikan pujangga ini
mengerucut bibir melepas nada angin
lagu cinta era mono
kenangan pasar malam di kota itu
kini berlari memutar diri seiring lagu di radio
mimpi indah, sayang
ini lagu kita.

surga

Aku berada di pelukan surga
yang mendekap tak tersekat.
Malam tak memberi takut
semua tersenyum tak memberi gentar.
Aku tak peduli akan maksud alam.
Aku tak mengerti.
Biar saja kita bermain dengan bait kata dan nada kita.
Misteri tak lagi bertanya
terungkap dengan sadar akan indah sebuah kepasrahan
Tunduk aku padamu illahi.

surat

Suratku Untuk Pencakar Langit
Apa kabar pencakar langit? Aku yakin disana dingin di mendung pagi ini. Tidakkah kau ingin turun kebawah kerumahku yang hangat? Akan kusaji teh hangat sehangat rumahku untukmu. Kuajak kamu melihat kebunku dan hewan – hewan ternakku, ya hewan ternakku, mereka sangat sehat. Mungkin kamu bisa berteman dengan mereka. Sapi putihku sangat suka dengan teman baru dan dia juga suka berpetualang, berulangkali aku harus mencarinya keluar karena aku tak menemukannya di kandangnya. Sering aku menemukannya sedang berada dijalanan sendirian, berjalan dengan santainya dan bersiul dengan suaranya yang sangat berat. Meski aku sangat panik dan juga marah tapi setiap kali aku menemukannya aku hanya bisa tersenyum dan kemudian tertawa lepas. Kamu harus melihat muka lucu dan bodohnya. Andai saja istriku juga berwajah seperti itu, tentu dulu kami takkan sering bertengkar. Aku yakin aku pasti mengalah pada wajah – wajah lucu dan tolol seperti itu. Sayang istriku bukan sapi putihku, andai saja dia lucu dan tolol seperti itu kami pasti tidak akan berpisah. Sapi putihku pasti akan bertanya banyak hal padamu dan aku yakin kamu pasti punya banyak cerita untuk kamu bagi dengannya. Kamu pasti sudah melihat banyak hal dari atas sana, kamu bisa bercerita tentang dunia luar dengannya, tentang liar dan kejamnya dunia diluar sana, mungkin kamu bisa mengarang cerita dan sedikit menakutinya..yah agar dia tak lagi sering keluar dari kandangnya. Jujur saja aku mulai sedikit khawatir dengannya, dia sudah semakin tua dan begitu juga aku. Aku takut kalau dia keluar dan berjalan sendirian dengan penglihatannya yang mulai kabur dia akan mendapat kecelakaan, seperti tertabrak truk atau jatuh kedalam jurang. Aku tak ingin itu terjadi dan aku juga lama-kelamaan tak bisa mencegah untuk hal-hal seperti itu agar tak terjadi. Aku sendiri sudah makin tua dan tentunya tidak selincah dulu untuk mengejarnya. Mungkin kamu bisa mengarang cerita tentang pembunuh berantai yang sedang bergentayangan diluar sana yang suka mengincar sapi-sapi terutama yang berwarna putih, aku yakin itu akan cukup menakutinya. Kamu juga akan kukenalkan dengan yang lain, ada 3 ekor domba di kandang belakang rumahku. Mereka sangat cerewet dan suka bernyanyi. Itu pula yang menyebabkan aku memisah kandang sapi putihku dengan domba-dombaku. Sapi putihku kukandangkan di halaman depan rumah agar dia tidak lagi mendengar nyanyian-nyanyian dombaku, sering setelah mendengar suara-suara mereka sapi putihku tidak dapat tidur dan akibatnya produksi susunya menurun. Memang suara mereka sangat buruk dan terdengar seperti pemabuk bersuara alto ketika bernyanyi, hanya saja bila tim kebanggaan kota kami sedang bermain mereka akan bernyanyi keras dan bersemangat layaknya hooligans dari Inggris dan hal-hal itu membuatku lebih bersemangat untuk menikmati pertandingan. Meski aku menonton pertandingan melalui tv didalam rumahku dengan segelas besar susu dari sapiku aku merasa seperti menonton pertandingan di sebuah bar dengan sekelompok supporter mabuk dibelakangku dan sebotol bir lokal yang agak asam. Sangat menyenangkan dan aku harap suatu saat kita bisa melakukannya bersama-sama. Aku juga memiliki seekor anjing tapi aku tak yakin apa kalian akan bisa berteman baik. Jangan khawatir dia tidak galak hanya saja dia sangat malas. Hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah makan, tidur, dan mandi. Tubuhnya sangat besar dan gemuk, dia mirip seperti 5 lembar seprai berukuran besar yang dibuntal acak. Bulu di tubuhnya sangat panjang dan lebat, wajahnya saja hampir tidak terlihat karenanya, dia seperti rocker gaek gondrong yang sudah lewat masa jayanya dan kini bermasalah dengan perut buncit dan alkohol. Dia suka tidur didepan sofaku dan kadang terlihat seperti bantal besar yang empuk. Untunglah dia sangat pembersih, dia sangat suka mandi. Aku bahkan tidak perlu memandikannya, dia mampu menyiapkan segala perlengkapan mandi dengan sendirinya. Dia mampu mengisi bak dengan air secukupnya, menaruh sedikit sabun cair, dan mengambil mainan bebek sendiri. Dia sangat terlatih dan mandiri. meski terkadang dia lupa dan salah mengambil bebek sungguhan dari kandang dibawah rumah kami. Tapi aku yakin itu tidak disengaja, dia lebih memilih makanan kaleng. Meskipun sengaja aku dapat memahaminya, dia pasti sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Dulunya dia adalah anjing penangkap untuk burung-burung yang berhasil ditembak oleh para pemburu, dan tak jarang burung-burung yang tertembak itu jatuh ke danau atau sungai, dan dia mau tak mau harus terjun kedalam air untuk mengambilnya. Pertemuanku dengan dia sangat unik , aku masih ingat ketika itu masih dalam suasana natal dan aku sedang berada di halaman depan sedang menerima sebuah bungkusan parsel hadiah dari seorang kerabat jauh pemilik pabrik makanan anjing dan tiba-tiba dari atas langit nampak sebuah burung besar yang terbang tak beraturan seperti sebuah pesawat tempur yang melaju berantakan karena tekena tembakan, burung itu meliuk-liuk beberapa kali sebelum jatuh dan mendarat dengan keras tepat beberapa meter didepanku. Aku sangat kaget dan terkejut, kuamati burung itu dari tempatku berdiri selama beberapa saat. Aku mengira dia pasti sudah mati. Sampai kemudian tak berapa lama kulihat burung itu mengangkat satu sayapnya yang lain dan disaat itu juga aku tersentak dan terkejut lebih jauh aku merasa seperti mendengar riuhan ribuan penonton yang bersorak dalam sebuah pertandingan gulat hiburan dimana sang jagoan yang dalam skenario tampak sudah kalah dan tak mampu berdiri akhirnya mengangkat salah satu tangannya dan meminta dukungan penonton. Aku segera mengangkat tubuh burung itu dan hendak bergegas membawanya kedalam rumah. Baru beberapa saja langkah kuambil terdengar suara lolongan anjing dibelakangku, sebuah anjing kurus berwarna coklat dengan taring menghunus siap menerkamku. Aku segera berlari dan berharap agar aku dapat mencapai pintu rumah sebelum dia mencapai punggungku atau kakiku atau bahkan pantatku. Untunglah aku berhasil, aku sampai lebih dulu kedalam rumah dan berhasil mendahului taring-taringnya yang hanya bisa menabrak pintu rumahku. Aku segera merawat dan member pertolongan pertama untuk burung itu yang ternyata berjenis elang. Dia pasti sudah terbang sangat jauh,aku yakin dia berasal dari bukit dibelakang kota kami dan aku juga yakin anjing yang terus menyalak didepan rumah itu juga sudah berlari sangat jauh, dia juga pasti sudah mengikuti burung itu dan mengejarnya dari bukit hingga sampai akhirnya didepan rumahku. Anjing itu terus menyalak dan menggaruk-garuk pintu rumahku dengan cakarnya. Hewan ternakku yang lain sangat ketakutan, sapi putihku berubah menjadi abu-abu karena panik, domba-dombaku mendadak bisu dan tak terdengar suara apa-pun dari belakang rumah, hanya bebek-bebek dan ayam-ayam dibawah rumah yang berteriak ketakutan dan nampaknya semakin menambah ganas perilaku dan bengis seringai si anjing. Aku kira dia tidak akan bertahan lama menunggu didepan pintu tapi ternyata dia sangat tangguh. Sudah sejam lebih dia diluar dan terus menyalak, aku mulai ikut panik dan berpikir keras mencari akal agar anjing itu pergi, aku tidak ingin menelpon polisi karena mereka saja mungkin menembaknya mati dan aku tak mau ada pembunuhan di rumahku. Sampai akhirnya aku tersadar kalau dalam bingkisan yang aku terima dari kerabat jauhku yang juga pemilik pabrik makanan anjing berisikan tentu saja ratusan kaleng makanan anjing. Aku segera membuka tiga kaleng dan menaruh isinya dalam mangkok besar. aku harap itu mampu menenangkannya. Aku menaiki loteng rumahku karena aku tak berani memberinya makanan itu dari depan rumah, aku hanya khawatir kalau-kalau dia menganggap maksud baikku sebagai usaha untuk menyuapnya dan akhirnya dia jadi tersinggung dan semakin ganas dan lebih gawat lagi kalai dia sampai memutuskan untuk memanggil teman-temannya. Dari atap rumah aku bisa melihat anjing itu, dia tetap menggonggong dengan keras dan kali ini dibarengi dengan gerakan sedikit terbang seperti ingin menerkamku yang berada diatap. Aku melempar mangkok besar itu kebawah dan berharap dia menyukai makanan kalengan itu, anjing itu kaget dengan lemparanku dan semakin menyalak keras tapi itu hanya untuk beberapa saat karena beberapa detik kemudian makanan itu berhasil menarik perhatiannya. Dia mulai mengendus-endus mangkok itu dan akhirnya melahap isi mangkok itu dengan rakus. Berhasil! Ya, anjing itu terdiam dan fokus dengan makanannya sekarang. Dia melahap habis dan menjadi tenang. Karenanya aku segera turun dan membuka beberapa kaleng lagi. Aku beranikan diri dan memberinya makanan itu dari depan rumah. Dia tak bereaksi denganku dia hanya makan dan makan. Dia menghabiskan 10 kaleng makanan anjing saat itu dan semenjak itu dia tidak mau pergi dan tinggal denganku hingga kini. Dia sebenarnya anjing yang baik hanya saja dia kelaparan. Aku dapat memetik pelajaran penting dari kejadian itu, bahwa rasa lapar dapat menjadi sangat berbahaya dan ketika kamu lapar dan menjadi berbahaya kamu dapat berubah menjadi anjing yang ganas, dan satu lagi selalu sediakan makanan anjing didalam rumah karena kamu takkan pernah tahu kapan seekor burung elang bisa jatuh dihalaman rumahmu dan kapan seekor anjing ganas yang kelaparan datang menggaruk-garuk pintu rumahmu meminta burung elang itu. Yah aku rasa hanya itu yang bisa aku bagi denganmu pencakar langit, mungkin kita bisa berbagi lebih banyak kalau suatu nanti kamu datang kerumahku. Oh ya kamu akan segera bertemu dengan burung elang yang aku baru saja ceritakan, dia sudah sehat sekarang dan tentunya sudah berdamai hati dengan anjingku. Kamu bisa berbincang-bincang dengannya, aku menyuruhnya untuk mengirim surat ini padamu.
Salam dariku.
Aku.

Pagi Dini Hari


Awan gelap di pagi dini membujuk bulan untuk mesum

Manusia tak sedang melihat indah langit.

Sudah terbenam dalam selimut dan menggigil dingin.

“Tak perlu malu untuk mau” katanya

Angin merasa jijik, lari bertiup dingin dan menggerutu ribut

“Kita benda dan ukuran keindahan, tak pantas untuk berkhianat pada hakikat kita”

Makhluk langit lupa padaku

Pada aku yang mencintai kejanggalan mereka.

“Wahai manusia aneh!”

“Mengapa kau tidak jadi biasa dan mulai bertindak normal”

Nelangsa kala kau tidak juga mampu mengajak jiwa untuk berkompromi dengan ingin

Kala kau tak mampu mengajak tubuh untuk berdamai dengan lelah

Aku mengantuk dan aku ingin tidur

Aku ingin berbaring dan terpejam tenang

Seperti batang yang tergeletak setelah seharian dilempar-lempar untuk mainan anjing

Aku mengantuk dan aku ingin tidur

Aku akan merapal kembali segala langkah menuju tidur

Aku senang rupanya aku menang

Aku akan tidur

Aku mesum dengan selimut

Dengan guling

Dengan kamu

Dalam mimpi

Tanah

Karena bagiku kamu seperti tanah bebas yang tidak bersertifikat,
entah hak milik atau hak guna bangun atas dirimu.
Kamu adalah tanah bebas yang berbau khas waktu hujan mengguyur,
yang melindungi kaki sensitifku dari kerikil tajam,
dan yang nanti akan mengubur aku,
nanti ketika kita bersama menjadi tanah.

hatimu dicuri saja!

Ketika hendak memilih dimana hatimu akan kau letakkan, cobalah untuk tidak terjebak dan masuk dalam tipuan akal.
Ibaratkan hatimu sebagai milikmu yang paling berharga dan tentu saja sudah menjadi hal yang masuk akal untuk meyimpannya di tempat rahasia tersembunyi atau singkat kata di tempat teraman yang pernah ada.
Tentu saja tujuannya agar kita merasa nyaman.
Sangat mudah dan biasa untuk meletakkannya di tempat-tempat seperti itu, tapi sangat mudah pula untuk dicuri.
Cobalah untuk meletakkannya di tempat-tempat yang berbahaya, karena pencurinya pasti akan sangat kesusahan dan kalaupun tercuri maka pencuri itulah pasti pemilik hatimu yang paling berhak.
Meletakkan hati mungkin sama seperti bergantung pada dahan kecil yang rapuh, menyeramkan memang, tapi untuk beberapa hal itu bisa sangat menarik.
Dengan segala sensasi unik ketika kamu bergantung, lalu merasakan hembusan angin, sepoi yang nikmat atau dalam kasus lain badai yang mengombang ambingkan, tidak pasti, kadang nikmat tapi sering juga sesat.
Sensasi lain seperti mendengarkan dan merasakan setiap bunyi retakan dahan yang kian melemah dan terkelupas perlahan sampai pangkal terakhir, mengerikan tentu.
Pastilah jantungmu berdetak semakin cepat dan darahmu berdesir semakin kencang seakan-akan hendak meledak dari tiap ujung pembuluhnya.
Kemudian jatuh, ya, jatuh menuju dataran yang jahat dan keras yang selalu jadi alasan kenapa kita takut.
Hal itu takkan terjadi kalau kamu memilih untuk berdiri di tepian yang aman.
Bergantunglah! Pada dahan yang rapuh. Letakkan hatimu pada segala bahaya.
Agar teruji siapa kamu dan siapa yang berhak atas hatimu.

Hai

Ketika rindu dan kau tulis namaku di telapak tanganmu
Lihatlah keatas, pada langit.
Dengarkan jutaan burung sedang bernyanyi
Untuk kamu, untuk rindumu padaku.

Kencing Tuhan

Toko sudah sepi
Malam sudah sunyi
Banci di seberang baru mulai
Mereka bernyanyi lalu mengungsi
Muka mereka merengut wajahnya kini lelaki

Anak ini nakal sekali
Kepalanya masih tak bermahkota
Giginya masih banyak gigis
Dia meringis lalu tertawa
Aku miris lalu bertanya
Namanya tuhan katanya
Rumahnya penuh setan
Ia pergi tak pamit ibu
Ia ingin kencing
Aku menghardiknya
Lancang sekali ia kencing di mukaku
Ia pergi berlari sambil kencing
Ia pergi kencing sambil berlari

Malamnya masih sunyi
Tokonya sudah sepi
Bancinya kini berlari
Hujan sudah turun lagi

Aku berdiri tanpa mengerti
Hujan turun tak rapi
Mungkin tuhan baru belajar kencing.

Menitip Salam

Menitip salam

Kali ini aku harus mengenal pak pos komplek rumah
Tak adil rasanya kalau aku hanya bisa mengetahuinya dengan inderaku
Lewat kuping aku memang biasa dan bisa menghapal deru motornya
Dengan mata aku mudah menempelkan liku wajahnya dalam ingatan dan
Dengan hidung aku tentu sangat yakin untuk tak terlalu dekat dengannya
Dia memang bau tapi jelasnya aku lebih mau.
Kopi sudah kuseduh dan rokokku sudah berganti merek
Untuk kali ini aku rela menyedot rokok kelas pekerja
Rokok netral tahan lama khas kaum penyerap keringat
Sajian ramah sederhana agar aku bisa menjabat tangannya dan bicara seraya menatap mata
Seperti sahabat lama bertemu untuk berdamai bukan untuk ramai
Hari ini rabu, di persimpangan hari yang hangat aku kan menyapanya
Aku ingin menitip salam untuk debu.