biar saja

Kita mengawali semua ini dengan kebosanan. Masih kuingat jelas wajahmu yang mengantuk dengan rona merah di wajahmu. Aku pun wajarnya mengantuk, tak banyak yang bisa kita rasakan waktu itu. Rupanya perlu waktu juga bagiku untuk menyukaimu. Selama ini kupikir pelana kuda itu penting dan tali pengekang juga. Tapi anak kecil itu lucu ketika dia berlari sendiri. Biar saja orang tuanya lari mengejar-ngejar.

senyum

Aku sedang tidak berargumen. Tidak. Itu menyusahkan. Aku mengeluh, karena aku lupa. Apakah aku melihat senyummu tadi pagi? Ah, sudah lama aku tidak berkaca.

sejenak

Ingatlah segala kesakitan yang kau tahu pasti datang. Bukankah kau sendiri yang mengemasnya? Membukanya lalu menghisap dan mengecapnya kala sore di beranda rumahmu? Tahun yang penuh marabahaya kau menyebutnya dalam kewaspadaan yang sangat rendah. Menghiraukannya seperti lembaran soal ujian yang sukar.

suatu siang

Seperti siang ini aku dihadapkan pada pilihan terbuka. Mencuci baju akan berguna karena besok aku harus tampil baik. Menonton tv juga perlu, entah sudah berapa lama ia tak menyala. Aku melihat penyanyi-penyanyi ini mencoba kualitasnya, dan aku tak merasa mereka benar-benar baik. Seperti ada jarak yang mengherankanku, karena banyak yang menyukai mereka tapi aku tidak. Mereka seperti lelucon tapi tidak cukup menyentil saraf tawaku.