Suratku Untuk Pencakar Langit
Apa kabar pencakar langit? Aku yakin disana dingin di mendung pagi ini. Tidakkah kau ingin turun kebawah kerumahku yang hangat? Akan kusaji teh hangat sehangat rumahku untukmu. Kuajak kamu melihat kebunku dan hewan – hewan ternakku, ya hewan ternakku, mereka sangat sehat. Mungkin kamu bisa berteman dengan mereka. Sapi putihku sangat suka dengan teman baru dan dia juga suka berpetualang, berulangkali aku harus mencarinya keluar karena aku tak menemukannya di kandangnya. Sering aku menemukannya sedang berada dijalanan sendirian, berjalan dengan santainya dan bersiul dengan suaranya yang sangat berat. Meski aku sangat panik dan juga marah tapi setiap kali aku menemukannya aku hanya bisa tersenyum dan kemudian tertawa lepas. Kamu harus melihat muka lucu dan bodohnya. Andai saja istriku juga berwajah seperti itu, tentu dulu kami takkan sering bertengkar. Aku yakin aku pasti mengalah pada wajah – wajah lucu dan tolol seperti itu. Sayang istriku bukan sapi putihku, andai saja dia lucu dan tolol seperti itu kami pasti tidak akan berpisah. Sapi putihku pasti akan bertanya banyak hal padamu dan aku yakin kamu pasti punya banyak cerita untuk kamu bagi dengannya. Kamu pasti sudah melihat banyak hal dari atas sana, kamu bisa bercerita tentang dunia luar dengannya, tentang liar dan kejamnya dunia diluar sana, mungkin kamu bisa mengarang cerita dan sedikit menakutinya..yah agar dia tak lagi sering keluar dari kandangnya. Jujur saja aku mulai sedikit khawatir dengannya, dia sudah semakin tua dan begitu juga aku. Aku takut kalau dia keluar dan berjalan sendirian dengan penglihatannya yang mulai kabur dia akan mendapat kecelakaan, seperti tertabrak truk atau jatuh kedalam jurang. Aku tak ingin itu terjadi dan aku juga lama-kelamaan tak bisa mencegah untuk hal-hal seperti itu agar tak terjadi. Aku sendiri sudah makin tua dan tentunya tidak selincah dulu untuk mengejarnya. Mungkin kamu bisa mengarang cerita tentang pembunuh berantai yang sedang bergentayangan diluar sana yang suka mengincar sapi-sapi terutama yang berwarna putih, aku yakin itu akan cukup menakutinya. Kamu juga akan kukenalkan dengan yang lain, ada 3 ekor domba di kandang belakang rumahku. Mereka sangat cerewet dan suka bernyanyi. Itu pula yang menyebabkan aku memisah kandang sapi putihku dengan domba-dombaku. Sapi putihku kukandangkan di halaman depan rumah agar dia tidak lagi mendengar nyanyian-nyanyian dombaku, sering setelah mendengar suara-suara mereka sapi putihku tidak dapat tidur dan akibatnya produksi susunya menurun. Memang suara mereka sangat buruk dan terdengar seperti pemabuk bersuara alto ketika bernyanyi, hanya saja bila tim kebanggaan kota kami sedang bermain mereka akan bernyanyi keras dan bersemangat layaknya hooligans dari Inggris dan hal-hal itu membuatku lebih bersemangat untuk menikmati pertandingan. Meski aku menonton pertandingan melalui tv didalam rumahku dengan segelas besar susu dari sapiku aku merasa seperti menonton pertandingan di sebuah bar dengan sekelompok supporter mabuk dibelakangku dan sebotol bir lokal yang agak asam. Sangat menyenangkan dan aku harap suatu saat kita bisa melakukannya bersama-sama. Aku juga memiliki seekor anjing tapi aku tak yakin apa kalian akan bisa berteman baik. Jangan khawatir dia tidak galak hanya saja dia sangat malas. Hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah makan, tidur, dan mandi. Tubuhnya sangat besar dan gemuk, dia mirip seperti 5 lembar seprai berukuran besar yang dibuntal acak. Bulu di tubuhnya sangat panjang dan lebat, wajahnya saja hampir tidak terlihat karenanya, dia seperti rocker gaek gondrong yang sudah lewat masa jayanya dan kini bermasalah dengan perut buncit dan alkohol. Dia suka tidur didepan sofaku dan kadang terlihat seperti bantal besar yang empuk. Untunglah dia sangat pembersih, dia sangat suka mandi. Aku bahkan tidak perlu memandikannya, dia mampu menyiapkan segala perlengkapan mandi dengan sendirinya. Dia mampu mengisi bak dengan air secukupnya, menaruh sedikit sabun cair, dan mengambil mainan bebek sendiri. Dia sangat terlatih dan mandiri. meski terkadang dia lupa dan salah mengambil bebek sungguhan dari kandang dibawah rumah kami. Tapi aku yakin itu tidak disengaja, dia lebih memilih makanan kaleng. Meskipun sengaja aku dapat memahaminya, dia pasti sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Dulunya dia adalah anjing penangkap untuk burung-burung yang berhasil ditembak oleh para pemburu, dan tak jarang burung-burung yang tertembak itu jatuh ke danau atau sungai, dan dia mau tak mau harus terjun kedalam air untuk mengambilnya. Pertemuanku dengan dia sangat unik , aku masih ingat ketika itu masih dalam suasana natal dan aku sedang berada di halaman depan sedang menerima sebuah bungkusan parsel hadiah dari seorang kerabat jauh pemilik pabrik makanan anjing dan tiba-tiba dari atas langit nampak sebuah burung besar yang terbang tak beraturan seperti sebuah pesawat tempur yang melaju berantakan karena tekena tembakan, burung itu meliuk-liuk beberapa kali sebelum jatuh dan mendarat dengan keras tepat beberapa meter didepanku. Aku sangat kaget dan terkejut, kuamati burung itu dari tempatku berdiri selama beberapa saat. Aku mengira dia pasti sudah mati. Sampai kemudian tak berapa lama kulihat burung itu mengangkat satu sayapnya yang lain dan disaat itu juga aku tersentak dan terkejut lebih jauh aku merasa seperti mendengar riuhan ribuan penonton yang bersorak dalam sebuah pertandingan gulat hiburan dimana sang jagoan yang dalam skenario tampak sudah kalah dan tak mampu berdiri akhirnya mengangkat salah satu tangannya dan meminta dukungan penonton. Aku segera mengangkat tubuh burung itu dan hendak bergegas membawanya kedalam rumah. Baru beberapa saja langkah kuambil terdengar suara lolongan anjing dibelakangku, sebuah anjing kurus berwarna coklat dengan taring menghunus siap menerkamku. Aku segera berlari dan berharap agar aku dapat mencapai pintu rumah sebelum dia mencapai punggungku atau kakiku atau bahkan pantatku. Untunglah aku berhasil, aku sampai lebih dulu kedalam rumah dan berhasil mendahului taring-taringnya yang hanya bisa menabrak pintu rumahku. Aku segera merawat dan member pertolongan pertama untuk burung itu yang ternyata berjenis elang. Dia pasti sudah terbang sangat jauh,aku yakin dia berasal dari bukit dibelakang kota kami dan aku juga yakin anjing yang terus menyalak didepan rumah itu juga sudah berlari sangat jauh, dia juga pasti sudah mengikuti burung itu dan mengejarnya dari bukit hingga sampai akhirnya didepan rumahku. Anjing itu terus menyalak dan menggaruk-garuk pintu rumahku dengan cakarnya. Hewan ternakku yang lain sangat ketakutan, sapi putihku berubah menjadi abu-abu karena panik, domba-dombaku mendadak bisu dan tak terdengar suara apa-pun dari belakang rumah, hanya bebek-bebek dan ayam-ayam dibawah rumah yang berteriak ketakutan dan nampaknya semakin menambah ganas perilaku dan bengis seringai si anjing. Aku kira dia tidak akan bertahan lama menunggu didepan pintu tapi ternyata dia sangat tangguh. Sudah sejam lebih dia diluar dan terus menyalak, aku mulai ikut panik dan berpikir keras mencari akal agar anjing itu pergi, aku tidak ingin menelpon polisi karena mereka saja mungkin menembaknya mati dan aku tak mau ada pembunuhan di rumahku. Sampai akhirnya aku tersadar kalau dalam bingkisan yang aku terima dari kerabat jauhku yang juga pemilik pabrik makanan anjing berisikan tentu saja ratusan kaleng makanan anjing. Aku segera membuka tiga kaleng dan menaruh isinya dalam mangkok besar. aku harap itu mampu menenangkannya. Aku menaiki loteng rumahku karena aku tak berani memberinya makanan itu dari depan rumah, aku hanya khawatir kalau-kalau dia menganggap maksud baikku sebagai usaha untuk menyuapnya dan akhirnya dia jadi tersinggung dan semakin ganas dan lebih gawat lagi kalai dia sampai memutuskan untuk memanggil teman-temannya. Dari atap rumah aku bisa melihat anjing itu, dia tetap menggonggong dengan keras dan kali ini dibarengi dengan gerakan sedikit terbang seperti ingin menerkamku yang berada diatap. Aku melempar mangkok besar itu kebawah dan berharap dia menyukai makanan kalengan itu, anjing itu kaget dengan lemparanku dan semakin menyalak keras tapi itu hanya untuk beberapa saat karena beberapa detik kemudian makanan itu berhasil menarik perhatiannya. Dia mulai mengendus-endus mangkok itu dan akhirnya melahap isi mangkok itu dengan rakus. Berhasil! Ya, anjing itu terdiam dan fokus dengan makanannya sekarang. Dia melahap habis dan menjadi tenang. Karenanya aku segera turun dan membuka beberapa kaleng lagi. Aku beranikan diri dan memberinya makanan itu dari depan rumah. Dia tak bereaksi denganku dia hanya makan dan makan. Dia menghabiskan 10 kaleng makanan anjing saat itu dan semenjak itu dia tidak mau pergi dan tinggal denganku hingga kini. Dia sebenarnya anjing yang baik hanya saja dia kelaparan. Aku dapat memetik pelajaran penting dari kejadian itu, bahwa rasa lapar dapat menjadi sangat berbahaya dan ketika kamu lapar dan menjadi berbahaya kamu dapat berubah menjadi anjing yang ganas, dan satu lagi selalu sediakan makanan anjing didalam rumah karena kamu takkan pernah tahu kapan seekor burung elang bisa jatuh dihalaman rumahmu dan kapan seekor anjing ganas yang kelaparan datang menggaruk-garuk pintu rumahmu meminta burung elang itu. Yah aku rasa hanya itu yang bisa aku bagi denganmu pencakar langit, mungkin kita bisa berbagi lebih banyak kalau suatu nanti kamu datang kerumahku. Oh ya kamu akan segera bertemu dengan burung elang yang aku baru saja ceritakan, dia sudah sehat sekarang dan tentunya sudah berdamai hati dengan anjingku. Kamu bisa berbincang-bincang dengannya, aku menyuruhnya untuk mengirim surat ini padamu.
Salam dariku.
Aku.
Langganan:
Komentar (Atom)